Jumat, 10 Juli 2026

Bukan Main Gawai, Pemuda Kediri Ini Pilih Jadi Dalang Wayang Kulit

 
BERTALENTA: Arya Putra Asmara, menunjukkan kepiawaiannya melakukan sabetan wayang saat mendalang(photo by radar kediri)


KEDIRI – Di saat banyak anak muda lebih akrab dengan layar gawai dan hiburan digital, Arya Putra Asmara justru memilih jalan yang berbeda. Ketika sebagian besar remaja seusianya menikmati waktu malam dengan aktivitas modern, pemuda 18 tahun asal Kediri ini rela terjaga hingga dini hari demi satu hal: menghidupkan panggung wayang kulit.

Bukan sekadar menjadi penonton, Arya berdiri di balik kelir sebagai seorang dalang. Usianya memang masih sangat muda, bahkan baru saja menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Plosoklaten. Namun kiprahnya dalam dunia pedalangan sudah membuat namanya dikenal oleh sejumlah pecinta wayang kulit.

Di dunia seni tradisi, Arya lebih dikenal dengan nama panggung Ki Gedug Arya Putra. Nama tersebut bahkan lebih populer dibandingkan nama aslinya, Arya Putra Asmara, terutama di daerah-daerah yang pernah menjadi lokasi penampilannya.

Banyak penggemar yang awalnya hanya mengenal sosoknya dari belakang kelir melalui video pertunjukan di media sosial. Tak sedikit yang terkejut ketika bertemu langsung karena ternyata dalang yang mereka kagumi masih berusia sangat muda.

"Banyak yang kaget, kok dalangnya ternyata masih kecil? Saya cuma mesem-mesem saja," ujar Arya sambil mengenang pengalaman tersebut.

Bagi Arya, menjadi dalang bukan hanya tentang kemampuan memainkan wayang atau membawakan cerita. Lebih dari itu, ia memiliki tujuan untuk menjaga agar budaya wayang tetap hidup dan bisa diterima oleh generasi muda.

"Kalau bukan generasi muda yang meneruskan dan melestarikan budaya wayang, siapa lagi?" katanya.

Kesadaran tersebut membuat Arya tidak ingin menghadirkan pertunjukan wayang dengan cara yang terlalu jauh dari kehidupan anak muda masa kini. Ia berusaha melakukan inovasi, terutama dalam penyampaian cerita.

Menurutnya, wayang tetap harus berpegang pada pakem dan nilai budaya, tetapi cara penyampaiannya bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Karena itu, ia mulai memadukan bahasa pedalangan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami generasi muda.

"Kalau ingin anak muda suka wayang, ya harus dibuat menarik tanpa meninggalkan pakemnya," ujarnya.

Arya meyakini pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat mencintai kesenian tradisional. Para pelaku seni juga harus mampu beradaptasi melalui kreativitas panggung, penyajian cerita, hingga pemanfaatan media sosial agar wayang tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.

Kecintaan Arya terhadap dunia pewayangan sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil. Ia lahir dari keluarga yang memang dekat dengan seni tradisi.

Ayahnya, Ki Asmoro Seno, merupakan seorang dalang yang telah lama berkecimpung di dunia pedalangan. Sementara ibunya, Nunuk Towiyah, adalah seorang sinden. Darah seni juga mengalir dari kakeknya yang berprofesi sebagai dalang.

"Kata orang tua, dulu saat masih bayi kalau diperdengarkan wayang dari radio saya langsung diam, tidak rewel," ceritanya.

Kemampuan memainkan wayang mulai diasah Arya sejak duduk di kelas 1 sekolah dasar. Ia belajar langsung dari ayah dan kakeknya sebelum kemudian bergabung dengan sanggar pedalangan dan karawitan saat kelas 4 SD.

Di sanggar tersebut, Arya tidak hanya belajar teknik memainkan wayang, tetapi juga memahami pakem cerita, filosofi, serta nilai-nilai yang terkandung dalam setiap lakon.

"Masuk sanggar itu senang sekali. Banyak teman yang sama-sama belajar, jadi semakin semangat," kenangnya.

Kesempatan tampil di depan masyarakat mulai datang saat Arya duduk di kelas 6 SD. Saat itu, sang ayah memberinya kesempatan tampil sekitar satu jam sebelum pertunjukan utama sebagai proses pembelajaran.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting hingga akhirnya Arya dipercaya membawakan pertunjukan wayang secara penuh. Debut sebagai dalang utama terjadi ketika ia duduk di kelas 3 SMP dalam acara bersih dusun di Kabupaten Jombang.

Tantangan terbesar saat itu bukan hanya soal menguasai cerita, melainkan bagaimana melawan rasa kantuk karena pertunjukan wayang biasanya berlangsung hingga dini hari.

"Awalnya berat karena belum terbiasa begadang. Dulu juga belum suka minum kopi," ujarnya sembari tertawa.

Kini, tampil semalam suntuk sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Arya terbiasa memimpin pertunjukan mulai pukul 21.00 hingga sekitar pukul 03.30 dini hari.

Meski demikian, ia tetap berusaha menjalankan tanggung jawab sebagai pelajar. Ketika masih sekolah, waktu istirahat di sela kegiatan dimanfaatkan untuk memulihkan tenaga agar tetap bisa mengikuti pelajaran.

Memasuki masa SMA, kiprah Arya semakin dikenal. Banyak pihak yang sebelumnya mengenal sang ayah kemudian memberikan kepercayaan kepadanya untuk tampil sebagai dalang utama.

Panggung yang ia jalani pun semakin luas. Arya pernah tampil di berbagai daerah, termasuk Bojonegoro, dalam acara bersih desa maupun peringatan hari besar.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti Pagelaran Wayang 72 Jam dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Kediri pada 2023. Dalam acara tersebut, belasan dalang tampil secara bergantian membawakan cerita yang saling berkesinambungan.

Arya menjadi peserta termuda di antara para dalang yang tampil.

"Saya senang dan bersyukur bisa tampil bersama mereka. Itu pengalaman yang tidak terlupakan," ungkap anak bungsu dari empat bersaudara tersebut.

Melalui panggung wayang yang ia jalani, Arya membuktikan bahwa budaya tradisional tetap memiliki tempat di hati generasi muda. Baginya, menjadi dalang bukan sekadar profesi, tetapi juga bentuk tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.(red/lis)

0 komentar:

Posting Komentar