KEDIRI – Harga cabai rawit di Kabupaten Kediri mengalami penurunan cukup tajam dalam beberapa hari terakhir. Melimpahnya hasil panen dari sejumlah sentra pertanian membuat pasokan meningkat, sehingga harga di tingkat petani maupun pasar tradisional ikut terkoreksi dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
Di tingkat petani, harga cabai rawit saat ini berada pada kisaran Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan harga pada awal bulan lalu yang sempat mencapai Rp40.000 per kilogram.
Salah seorang petani cabai di Kecamatan Pagu, Anik, mengatakan penurunan harga terjadi seiring meningkatnya produksi dari hasil panen yang berlangsung hampir bersamaan di berbagai wilayah.
"Memang sekarang sedang turun karena banyak petani yang panen. Alhamdulillah hasil panen saya juga cukup bagus," ujarnya.
Penurunan harga tidak hanya dirasakan di tingkat petani, tetapi juga di pasar induk. Pengurus Pasar Induk bagian Cabai Besar, Henry Aryawan, mengungkapkan harga cabai rawit merah saat ini berada di kisaran Rp33.000 hingga Rp36.000 per kilogram. Padahal, pada awal bulan lalu komoditas tersebut sempat menyentuh harga Rp70.000 per kilogram.
Menurut Henry, tingginya harga pada periode sebelumnya disebabkan minimnya hasil petikan akibat berkurangnya produksi. Selain itu, banyak tanaman cabai terserang jamur karena faktor cuaca yang kurang mendukung sehingga pasokan menjadi terbatas.
"Awal bulan lalu harga sempat tinggi karena hasil petikan sedikit. Banyak tanaman cabai yang terserang jamur sehingga produksi menurun," jelasnya.
Selain cabai rawit, harga cabai keriting juga mengalami penurunan. Saat ini komoditas tersebut diperdagangkan di kisaran Rp20.000 per kilogram.
Meski harga mengalami penurunan, aktivitas distribusi cabai dari Kediri ke berbagai daerah masih terus berlangsung. Henry menyebutkan bahwa pada hari ini terdapat pengiriman cabai ke Kalimantan dan sejumlah daerah lainnya untuk memenuhi kebutuhan pasar luar daerah.
Sementara itu, di sektor pangan, Perum Bulog Kantor Cabang Kediri memastikan distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kembali berjalan normal setelah sempat mengalami keterlambatan.
Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Kediri, Harisun, menjelaskan bahwa sebelumnya distribusi beras SPHP tertunda karena Bulog memprioritaskan penyaluran bantuan pangan pemerintah yang harus diselesaikan sesuai target waktu yang telah ditetapkan.
"Mulai minggu ini sudah dilakukan dropping ke kios-kios dan distribusinya mulai lancar kembali," kata Harisun.
Ia menambahkan, saat ini stok cadangan beras yang tersimpan di gudang Bulog Kediri mencapai sekitar 97 ribu ton, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan pasokan beras.
Penyaluran beras SPHP difokuskan ke pasar-pasar yang menjadi lokasi pemantauan harga oleh Badan Pusat Statistik (BPS), seperti Pasar Setono Betek, Pasar Pamenang, Pasar Mrican, serta sejumlah pasar lainnya yang telah terdaftar.
Di tengah normalnya distribusi beras SPHP, harga beras komersial di pasaran justru menunjukkan tren kenaikan. Namun demikian, Harisun menegaskan bahwa harga beras SPHP tetap dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Saat ini, beras SPHP dijual seharga Rp62.500 per kemasan 5 kilogram atau setara Rp12.500 per kilogram. Harga tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan harga beras premium yang mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan harga beras juga diakui oleh para pedagang. Mansur, salah seorang pedagang di Pasar Sumberejo, mengatakan hampir seluruh jenis beras mengalami kenaikan harga meskipun tidak terlalu signifikan.
Ia mencontohkan beras kemasan merek Lahab yang sebelumnya dijual Rp76.000 per sak kini naik menjadi Rp77.000 per sak. Sementara itu, beras selepan merek 64 Super mengalami kenaikan dari Rp13.500 menjadi Rp14.500 per kilogram. Beras merek Bramo juga naik dari sekitar Rp13.800 menjadi Rp15.000 per kilogram.
"Kenaikannya memang tidak terlalu besar, tetapi hampir semua jenis beras sekarang mengalami kenaikan harga," pungkasnya.
Turunnya harga cabai dan mulai lancarnya distribusi beras SPHP menjadi kabar baik bagi masyarakat. Namun di sisi lain, tren kenaikan harga beras komersial masih menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi daya beli konsumen apabila terus berlanjut dalam waktu yang lama.(red/lisa)