Senin, 27 Juli 2026

Wisata Air Panas Gunung Kelud Kediri Disiapkan Buka Kembali Setelah 12 Tahun Tutup

  

PENINJAUAN - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Ngancar serta komunitas pelaku wisata Gunung Kelud saat meninjau air panas,(by tribunjatim.com)



KEDIRI
– Pemerintah Kabupaten Kediri mulai menyiapkan rencana pembukaan kembali destinasi wisata air panas di kawasan Gunung Kelud yang telah lama berhenti beroperasi sejak erupsi pada 2014 lalu. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengembangan sektor pariwisata daerah sekaligus menghidupkan kembali potensi wisata alam yang sebelumnya menjadi salah satu daya tarik unggulan Kabupaten Kediri. 

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri telah melakukan pemetaan serta survei awal terhadap kawasan wisata air panas Gunung Kelud. Kajian tersebut bertujuan untuk melihat kondisi terkini lokasi, menilai kelayakan kawasan, serta memastikan kesiapan berbagai fasilitas pendukung sebelum objek wisata tersebut kembali dibuka untuk masyarakat. 

Kawasan wisata air panas Gunung Kelud sebelumnya menjadi salah satu destinasi yang diminati wisatawan karena menawarkan pengalaman menikmati sumber air panas alami dengan latar kawasan pegunungan. Namun, aktivitas vulkanik Gunung Kelud pada 2014 menyebabkan sejumlah perubahan kondisi kawasan sehingga pengelolaan wisata tersebut harus dihentikan sementara. Erupsi Gunung Kelud pada Februari 2014 juga membuat pemerintah melakukan berbagai penyesuaian terkait keamanan dan pengelolaan kawasan wisata. 

Setelah lebih dari satu dekade tidak beroperasi, pemerintah daerah melihat masih adanya potensi besar yang dapat dikembangkan dari kawasan tersebut. Hasil kajian awal menunjukkan bahwa wisata air panas Kelud masih memiliki daya tarik untuk dikembangkan kembali, terutama dengan dukungan konsep wisata alam yang lebih modern dan sesuai dengan kebutuhan pengunjung saat ini. 

Selain memperhatikan potensi wisata, Pemkab Kediri juga menempatkan aspek keamanan sebagai pertimbangan utama. Pembukaan kembali kawasan wisata di sekitar Gunung Kelud harus melalui berbagai kajian agar aktivitas wisatawan tetap berjalan dengan aman dan tidak mengabaikan kondisi lingkungan maupun faktor kebencanaan di kawasan gunung api.

Rencana pengaktifan kembali wisata air panas Kelud diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Dengan kembali beroperasinya destinasi tersebut, peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal, seperti pedagang, penyedia jasa wisata, hingga masyarakat sekitar kawasan Gunung Kelud, juga diharapkan ikut meningkat.

Pengembangan kembali wisata air panas ini juga menjadi bagian dari strategi Pemkab Kediri dalam memperkuat sektor pariwisata daerah. Gunung Kelud selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata Kabupaten Kediri yang memiliki daya tarik alam, sejarah, serta potensi ekonomi yang besar. Pemerintah berharap pengelolaan kawasan tersebut ke depan dapat menghadirkan destinasi wisata yang aman, nyaman, dan mampu menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.

Dengan adanya persiapan pembukaan kembali wisata air panas Gunung Kelud, masyarakat kini menantikan hadirnya kembali salah satu destinasi legendaris Kabupaten Kediri tersebut. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, kawasan ini berpotensi menjadi salah satu pilihan wisata unggulan yang menggabungkan keindahan alam pegunungan dengan pengalaman menikmati sumber air panas alami.(red/lis)

Minggu, 26 Juli 2026

5 Oleh-Oleh Khas Kediri yang Wajib Dibawa Pulang, Tahu Takwa Tetap Jadi Primadona


Gudange Tahu Takwa (GTT) merupakan pusat oleh-oleh khas Kediri, Jawa Timur yang eksis sejak 1993. (Instagram/@pusatoleholehgtt)



KEDIRI
– Berkunjung ke Kediri rasanya belum lengkap tanpa membawa buah tangan khas daerah ini. Selain dikenal sebagai kota dengan beragam destinasi wisata dan sejarah, Kediri juga memiliki kekayaan kuliner yang kerap menjadi incaran wisatawan untuk dijadikan oleh-oleh.

Salah satu yang paling populer adalah tahu takwa. Kuliner berwarna kuning khas ini telah lama menjadi ikon Kota Kediri. Warna kuningnya berasal dari penggunaan kunyit, sedangkan teksturnya yang padat dan cita rasa gurih membuat tahu takwa menjadi favorit untuk dinikmati sebagai lauk maupun camilan. Tak heran jika Kediri juga dijuluki sebagai Kota Tahu. 

Selain tahu takwa, wisatawan juga banyak memburu gethuk pisang. Berbeda dengan gethuk pada umumnya yang berbahan dasar singkong, makanan khas Kediri ini dibuat dari pisang raja yang difermentasi sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan sedikit asam dengan aroma yang khas. Gethuk pisang biasanya dibungkus menggunakan daun pisang sehingga tampilannya semakin tradisional. 

Pilihan berikutnya adalah tahu pong, olahan tahu dengan bagian dalam yang kopong setelah digoreng. Teksturnya renyah di luar namun tetap lembut saat disantap. Tahu pong umumnya disajikan bersama cabai rawit atau sambal petis sehingga cita rasanya semakin nikmat. 

Bagi pencinta camilan, stik tahu juga layak dijadikan buah tangan. Olahan berbahan dasar tahu ini memiliki tekstur renyah dengan rasa gurih sehingga praktis dibawa sebagai oleh-oleh maupun teman bersantai. Produk tersebut banyak dijual di pusat oleh-oleh khas Kediri dalam berbagai ukuran kemasan. 

Tak kalah menarik adalah kopi khas Kediri. Sejumlah produk kopi lokal menjadi favorit wisatawan karena memiliki aroma yang khas dan cita rasa yang kuat. Kopi tersebut berasal dari kawasan pegunungan di Kabupaten Kediri yang dikenal sebagai daerah penghasil kopi berkualitas. 

Seluruh oleh-oleh tersebut mudah ditemukan di berbagai pusat oleh-oleh, pasar tradisional, maupun toko-toko legendaris di Kota dan Kabupaten Kediri. Selain harganya relatif terjangkau, produk-produk tersebut juga memiliki daya tahan yang cukup baik sehingga aman dibawa bepergian ke luar daerah.

Dengan beragam pilihan kuliner khas tersebut, wisatawan tidak hanya membawa pulang buah tangan, tetapi juga membawa cita rasa yang menjadi bagian dari identitas kuliner Kediri. Hal itu menjadikan oleh-oleh khas Kediri tetap diminati dan selalu menjadi buruan setiap musim liburan. (red/lis)

Rute Lebih Panjang, Dhoho Night Carnival 2026 Suguhkan Wajah Baru Kota Kediri


Kontingen PT Gudang Garam Tbk memeriahkan Dhoho Night Carnival 2026. (photo by radar kediri)


KEDIRI
– Dhoho Night Carnival (DNC) 2026 tampil dengan konsep yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain menghadirkan rute yang lebih panjang, ajang tahunan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1.147 Kota Kediri ini juga mengusung tema "Symphony of Nature" yang menonjolkan kreativitas berbasis kepedulian terhadap lingkungan.

Rute baru DNC 2026 dimulai dari Balai Kota Kediri, kemudian melintasi Jalan Dhoho, kawasan Pecinan di Jalan Yos Sudarso, hingga berakhir di Taman Brantas. Jalur tersebut dipilih untuk memberikan pengalaman baru sekaligus memperlihatkan sisi lain Kota Kediri kepada masyarakat yang menyaksikan parade.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, perubahan rute merupakan upaya menghadirkan suasana yang lebih segar bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang menikmati kemeriahan Dhoho Night Carnival.

"Rute baru ini akan memperlihatkan wajah Kota Kediri dari sudut pandang yang berbeda," ujar Vinanda saat memberikan sambutan.

Meski menggunakan lintasan baru, antusiasme masyarakat tidak surut. Sejak sore hari, ribuan warga telah memadati sejumlah titik di sepanjang jalur parade untuk mendapatkan posisi terbaik menyaksikan penampilan para peserta. Suasana semakin semarak ketika rombongan peserta mulai melintasi rute yang telah disiapkan.

Menurut Vinanda, tema "Symphony of Nature" dipilih sebagai bentuk perayaan kreativitas dan budaya yang sejalan dengan semangat zero waste. Seluruh peserta didorong menghadirkan karya-karya yang memanfaatkan material daur ulang sehingga mampu mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai seni.

Ia mengapresiasi kreativitas para peserta yang berhasil mengubah barang-barang bekas menjadi kostum dan ornamen parade yang menarik perhatian penonton.

"Malam ini kita menyaksikan karya-karya yang luar biasa, lahir dari semangat zero waste, dari material daur ulang, dari barang-barang yang mungkin dianggap tidak bernilai namun di tangan para kreator justru berubah menjadi karya yang memukau," kata Vinanda.

Pembukaan Dhoho Night Carnival 2026 juga dihadiri sejumlah tamu kehormatan dari tingkat nasional maupun provinsi. Di antaranya Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani, Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Agus Widiatmoko, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Evy Afianasari, serta anggota DPR RI dan DPRD Provinsi Jawa Timur.

Vinanda menilai kehadiran para tamu undangan tersebut menjadi dukungan positif bagi pengembangan sektor pariwisata dan pelestarian budaya di Kota Kediri.

Parade Dhoho Night Carnival mulai berlangsung sekitar pukul 19.30 WIB dengan diikuti lebih dari 30 kontingen dari berbagai instansi, daerah, hingga perusahaan. Barisan pertama diisi oleh kontingen Dinas Pendidikan Kota Kediri, disusul peserta dari Kabupaten Kediri, kemudian PT Gudang Garam Tbk sebagai peserta ketiga.

Melalui penyelenggaraan DNC 2026, Pemerintah Kota Kediri berharap ajang ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mampu memperkuat identitas budaya daerah, mendorong kreativitas, serta meningkatkan daya tarik wisata Kota Kediri di tingkat regional maupun nasional.(red/lis)


Sabtu, 25 Juli 2026

Pemkot Kediri Usulkan 150 Formasi CPNS, PPPK Paruh Waktu Berpeluang Jadi PNS

PPPK paruh waktu Kota Kediri saat menerima penyerahan SK pada Desember 2025 lalu. Saat ini, Pemkot Kediri kaji nasib ribuan pegawai itu sebelum diperpanjang kontraknya untuk tahun depan. (Foto radar kediri)


KEDIRI
– Kabar baik datang bagi para pencari kerja, khususnya Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri. Mereka berpeluang mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) apabila usulan formasi yang diajukan pemerintah daerah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat.

Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Kediri mengusulkan sekitar 150 formasi CPNS untuk memenuhi kebutuhan aparatur sipil negara (ASN) di sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Formasi tersebut diprioritaskan untuk tenaga guru mata pelajaran, tenaga kesehatan, serta tenaga teknis.

Kepala Bidang Mutasi, Formasi, dan Informasi Kepegawaian BKPSDM Kota Kediri, Aditya Bagus Prawicaksono, mengatakan usulan tersebut telah disampaikan sejak awal tahun. Namun hingga kini, Pemerintah Kota Kediri masih menunggu keputusan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) serta Badan Kepegawaian Negara (BKN).

"Kami masih mengusulkan saja, tapi dari KemenPAN-RB dan BKN belum turun formasinya," ujarnya.

Bagus menjelaskan, kebutuhan formasi CPNS didominasi tenaga guru mata pelajaran karena sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Kota Kediri masih mengalami kekurangan tenaga pengajar. Kondisi tersebut membuat guru yang ada harus menambah beban kerja untuk memenuhi kebutuhan proses belajar mengajar.

Meski mengusulkan pembukaan formasi CPNS, ia memastikan langkah tersebut tidak akan mengurangi jumlah PPPK paruh waktu yang saat ini masih bekerja di lingkungan Pemkot Kediri.

"Tetap tidak ada pengurangan tenaga PPPK paruh waktu, kecuali yang terkena indisipliner berdasarkan hasil evaluasi kinerja," tegasnya.

Menurut Bagus, apabila usulan formasi disetujui pemerintah pusat, PPPK paruh waktu juga memiliki kesempatan untuk mengikuti seleksi CPNS. Syaratnya, pelamar memenuhi ketentuan usia dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan formasi yang dibuka.

"Kalau usianya masih memenuhi syarat dan kompetensinya sesuai dengan formasi yang tersedia, tentu mereka bisa melamar. Batas usia maksimalnya 35 tahun," katanya.

Ia menambahkan, usulan formasi tersebut disusun berdasarkan kebutuhan riil dari masing-masing OPD. Selain mempertimbangkan kekurangan tenaga di sejumlah instansi, BKPSDM juga menyesuaikan dengan jumlah aparatur sipil negara yang memasuki masa pensiun.

Menurutnya, pada tahun ini terdapat lebih dari 200 pegawai yang memasuki masa pensiun. Namun, Pemkot Kediri hanya mengusulkan sekitar 150 formasi untuk mengisi posisi yang dinilai paling mendesak.

"Usulan itu sudah kami sinkronkan dengan jumlah pegawai yang pensiun. Yang pensiun memang sekitar 200 orang, tetapi kami hanya mengusulkan sekitar 150 formasi untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak agar tetap sesuai kemampuan daerah," jelasnya.

Sementara itu, nasib ribuan PPPK paruh waktu di Kota Kediri masih menunggu hasil evaluasi. Sebanyak 2.557 PPPK paruh waktu dijadwalkan mengakhiri masa kontraknya pada Oktober mendatang. Pemerintah Kota Kediri saat ini tengah mengkaji kemungkinan perpanjangan kontrak mereka.

Perpanjangan kontrak akan didasarkan pada hasil evaluasi kinerja yang dilakukan masing-masing OPD setiap tiga bulan sekali. Pegawai yang memperoleh nilai Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) minimal berkategori baik berpeluang mendapatkan perpanjangan kontrak.

Sebaliknya, PPPK paruh waktu yang terbukti melakukan pelanggaran disiplin tidak akan diperpanjang masa kerjanya. Bahkan, satu orang dipastikan tidak memperoleh perpanjangan kontrak setelah dinyatakan melakukan tindakan indisipliner berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pemerintah daerah.(red/lis)

Semarak Gerak Sehat Prolanis, BPJS Kesehatan Kediri Ajak Peserta Penyakit Kronis Hidup Aktif


Suasana peringatan HUT ke-58 BPJS Kesehatan yang dirangkai dengan Gerak Sehat Prolanis 335 di Kediri.--( photo by memorandum co.id)


KEDIRI
– Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-58, BPJS Kesehatan Cabang Kediri menggelar kegiatan Semarak Gerak Sehat Prolanis pada Sabtu (25/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi upaya untuk mendorong peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) agar semakin aktif menerapkan pola hidup sehat.

Kegiatan yang berlangsung di Kota Kediri tersebut diikuti sebanyak 282 peserta yang berasal dari 13 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Selain itu, sembilan laboratorium mitra turut mendukung kegiatan melalui layanan pemeriksaan kesehatan bagi para peserta.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr. Hamida, mengapresiasi peran BPJS Kesehatan dalam memberikan perlindungan kesehatan sekaligus membangun kolaborasi bersama pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan berbagai pihak terkait.

"Kami sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas dedikasi BPJS Kesehatan dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat. Upaya ini mampu memantik semangat gotong royong serta mengajak semua pihak untuk memperkuat kolaborasi dan integrasi layanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan," ujarnya.

Menurut Hamida, sinergi antara BPJS Kesehatan, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi sistem kesehatan nasional. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan layanan kesehatan yang semakin mudah dijangkau dan berkualitas.

"Harapan kami ke depan, BPJS Kesehatan semakin terpercaya, inovatif, dan mudah diakses oleh seluruh rakyat Indonesia. Mari kita terus mendukung transformasi layanan kesehatan nasional demi mewujudkan Indonesia yang semakin sehat dan semangat menuju Indonesia Emas," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kediri Tutus Novita Dewi menjelaskan, Prolanis merupakan salah satu program unggulan BPJS Kesehatan yang mengedepankan upaya promotif dan preventif bagi peserta dengan penyakit kronis.

Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan yang diberikan, tetapi juga kesadaran peserta dalam menjaga kondisi tubuh melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan rutin.

"Melalui kegiatan Prolanis, diharapkan peserta yang mengidap penyakit kronis dapat mengendalikan kondisi kesehatannya dengan lebih baik. Dengan rutin menjalani pemeriksaan laboratorium secara berkala dan mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, peserta dapat menjaga kondisi kesehatannya serta meningkatkan kualitas hidup agar tetap sehat dan produktif," jelas Tutus.

Dalam kegiatan tersebut, BPJS Kesehatan juga memperkenalkan inovasi aktivitas fisik bernama Gerak Sehat Prolanis (GSP) 335. Program olahraga tersebut dirancang agar mudah dilakukan oleh peserta Prolanis sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat.

GSP 335 dilakukan dengan berjalan santai selama tiga menit, kemudian dilanjutkan berjalan cepat selama tiga menit. Rangkaian tersebut diulang sebanyak lima set sehingga total durasi aktivitas mencapai sekitar 30 menit.

"Pola olahraga ini merupakan salah satu inovasi BPJS Kesehatan untuk mendorong masyarakat lebih aktif bergerak sesuai anjuran aktivitas fisik harian. Dengan gerakan yang sederhana dan mudah dilakukan, GSP 335 diharapkan dapat menjadi kebiasaan sehat yang diterapkan oleh seluruh masyarakat," ungkap Tutus.

Salah satu peserta JKN, Erna (46), mengaku terbantu dengan adanya kegiatan Prolanis. Ia rutin mengikuti berbagai aktivitas seperti senam bersama dan pemeriksaan kesehatan berkala untuk memantau kondisi hipertensi yang dialaminya.

"Setiap hari saya berusaha berjalan kaki selama 30 menit. Seminggu sekali saya juga mengikuti olahraga pilates. Selain itu, saya mulai lebih memperhatikan pola makan dengan memilih makanan yang lebih sehat. Semua ini saya lakukan agar kondisi kesehatan tetap terjaga dan penyakit tidak kambuh lagi," tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, BPJS Kesehatan berharap peserta Prolanis semakin memahami pentingnya pencegahan, pengendalian penyakit kronis, serta menjaga kebugaran agar tetap dapat menjalani aktivitas secara produktif.(red/lis)

Jumat, 24 Juli 2026

Angka Pengangguran Turun, Tantangan Mendapat Kerja Layak Masih Menghantui Pekerja Indonesia

  

IIlustrasi pencari kerja. (dok. JawaPos.com)


Kediri
– Angka pengangguran di Indonesia menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2026 berada di angka 4,68 persen, turun 0,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain penurunan angka pengangguran, jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami peningkatan. BPS mencatat sebanyak 147,67 juta penduduk Indonesia telah masuk dalam kelompok bekerja pada Februari 2026.

Meski demikian, turunnya angka pengangguran tidak otomatis membuat masyarakat lebih mudah memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan harapan. Sebab, dalam kategori penduduk bekerja juga termasuk mereka yang memiliki jam kerja terbatas maupun pekerja dengan pendapatan yang belum stabil.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja, tetapi juga kualitas pekerjaan yang tersedia.

Pekerja Informal Masih Mendominasi

BPS mencatat mayoritas penduduk bekerja masih berada di sektor informal. Sebanyak 87,74 juta orang atau sekitar 59,42 persen dari total penduduk bekerja menjalankan aktivitas ekonomi melalui usaha sendiri, menjadi pekerja lepas, membantu usaha keluarga, maupun pekerjaan yang belum memiliki sistem kerja tetap.

Sementara itu, pekerja yang berada di sektor formal tercatat sebanyak 59,93 juta orang atau sekitar 40,58 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih menggantungkan penghasilan dari pekerjaan mandiri atau sektor informal yang memiliki tingkat kepastian pendapatan lebih rendah dibandingkan pekerjaan formal.

Selain persoalan status pekerjaan, masalah lain terlihat dari jumlah pekerja yang belum mendapatkan jam kerja optimal.

BPS mencatat tingkat setengah pengangguran mencapai 7,27 persen. Kelompok ini merupakan masyarakat yang sudah bekerja, tetapi memiliki jam kerja kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan.

Sementara itu, jumlah pekerja paruh waktu tercatat mencapai 25,97 persen.

Pendapatan Pekerja Masih Jadi Perhatian

Selain aspek kesempatan kerja, tingkat pendapatan juga menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi ketenagakerjaan.

Pada Februari 2026, rata-rata upah buruh nasional tercatat sebesar Rp3,29 juta per bulan. Namun angka tersebut merupakan rata-rata nasional sehingga kondisi pendapatan pekerja dapat berbeda-beda tergantung wilayah, jenis pekerjaan, tingkat keahlian, serta sektor usaha.

Dengan kondisi tersebut, penurunan angka pengangguran tidak sepenuhnya menggambarkan bahwa seluruh masyarakat telah memperoleh pekerjaan yang ideal.

Masih terdapat tantangan lain seperti tingginya jumlah pekerja informal, keterbatasan jam kerja, pendapatan yang belum mencukupi, serta kesenjangan antara keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha.

Data BPS dan pengalaman masyarakat di lapangan pun menunjukkan hal yang saling berkaitan. Meskipun semakin banyak penduduk yang bekerja, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kualitas lapangan kerja agar masyarakat tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memperoleh pekerjaan yang lebih stabil dan sesuai dengan kemampuan.(red/lis)

53 Pasangan Nikah di VW Kombi, Kota Kediri Torehkan Rekor MURI dengan Konsep Pernikahan Unik


(dok pemkot kediri)


KEDIRI – Sebanyak 53 pasangan resmi mengikat janji suci melalui prosesi nikah massal dengan konsep berbeda dari biasanya. Bukan berlangsung di gedung pernikahan maupun rumah ibadah, akad nikah digelar di dalam mobil legendaris Volkswagen (VW) Kombi di kawasan Jalan Stasiun Kota Kediri, Jumat (24/7/2026).

Prosesi pernikahan unik tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Kediri ke-1147 sekaligus Jambore Nasional Volkswagen Indonesia Association (VIA) ke-53. Tak hanya menghadirkan pengalaman berbeda bagi para pasangan, kegiatan ini juga berhasil mencatatkan pemecahan Rekor MURI sebagai nikah massal di dalam VW Kombi dengan peserta terbanyak.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati bersama Wakil Wali Kota Qowimuddin turut menyaksikan langsung jalannya prosesi tersebut. Puluhan kendaraan VW Kombi yang telah dihias dengan nuansa romantis menjadi saksi perjalanan 53 pasangan memulai kehidupan rumah tangga mereka.

Vinanda mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar upaya mengejar rekor, tetapi memiliki makna sosial yang lebih besar karena memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan pernikahan secara mudah dan berkesan.

"Acara hari ini merupakan salah satu rangkaian Hari Jadi Kota Kediri yang bersinergi dengan komunitas VW. Komunitas VW juga melaksanakan jambore nasional dan Kota Kediri dipercaya menjadi tuan rumah. Harapannya nikah massal ini memberikan banyak manfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, konsep pernikahan di dalam VW Kombi menjadi simbol perpaduan antara inovasi, budaya, pelayanan publik, serta pengembangan sektor pariwisata. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sebuah komunitas tidak hanya bergerak dalam bidang hobi, tetapi juga mampu menghadirkan kegiatan sosial yang memberikan dampak bagi masyarakat.

Vinanda juga menyampaikan apresiasi kepada Kediri Volkswagen Club (KVC) yang telah sukses menjadi tuan rumah Jambore Nasional Volkswagen Indonesia Association ke-53 dengan tema "Kediri Joyone VW".

"Semoga komunitas VW semakin solid, inovatif, dan terus menjadi inspirasi bahwa komunitas tidak hanya menyalurkan hobi, tetapi juga mampu menghadirkan kegiatan sosial yang membawa manfaat besar bagi masyarakat," katanya.

Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Kediri

Vinanda menilai Hari Jadi Kota Kediri bukan hanya menjadi momentum memperingati usia kota, tetapi juga ruang kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat.

Tahun ini, Hari Jadi Kota Kediri mengusung tema "Sinergi Lintas Generasi, Mengalir dengan Inovasi, Teguh dalam Tradisi". Tema tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas Volkswagen.

Menurutnya, kehadiran Jambore Nasional Volkswagen Indonesia Association menjadi bukti bahwa Kota Kediri mampu menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan berskala nasional.

"Ketika ruang kota mampu menghadirkan peristiwa-peristiwa kreatif seperti hari ini, maka semakin memperkuat identitas Kota Kediri sebagai City Tourism (D'CITO) sekaligus menggerakkan ekonomi sekitar," jelasnya.

Kawasan Jalan Stasiun yang menjadi lokasi acara juga disebut sebagai salah satu ruang publik yang terus ditata agar lebih hidup dan ramah bagi masyarakat.

Vinanda menambahkan, perkembangan pariwisata saat ini tidak hanya bergantung pada destinasi, tetapi juga pengalaman unik yang mampu meninggalkan kesan bagi masyarakat.

"Saya yakin menyaksikan akad nikah massal di dalam puluhan Volkswagen Kombi adalah pengalaman yang hanya bisa ditemukan di Kota Kediri," ungkapnya.

Fasilitas Pernikahan Diberikan Gratis

Selain menghadirkan konsep yang tidak biasa, seluruh rangkaian nikah massal tersebut juga diberikan secara gratis kepada para peserta. Panitia menyiapkan berbagai kebutuhan mulai dari administrasi pernikahan, perlengkapan acara, hingga fasilitas pendukung lainnya.

Kegiatan tersebut sekaligus memberikan kemudahan bagi pasangan yang sebelumnya terkendala dalam mengurus administrasi pernikahan.

Suasana Jalan Stasiun Kota Kediri pun berubah menjadi lokasi penuh kebahagiaan. Para pasangan tidak datang sendiri, tetapi turut membawa keluarga dan kerabat untuk menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Melalui kegiatan ini, Kota Kediri tidak hanya mencatatkan prestasi melalui Rekor MURI, tetapi juga menghadirkan cerita tentang kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menciptakan kegiatan yang bernilai sosial sekaligus mendukung sektor pariwisata daerah.(red/lis)

Kamis, 23 Juli 2026

Muskerwil VI BAMAG Jatim Digelar di Kediri, Wali Kota Tekankan Pentingnya Toleransi

(photo by pemkot kediri)


KOTA KEDIRI – Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati membuka Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) VI Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Jawa Timur se-Eks Karesidenan Kediri yang digelar di Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri, Rabu (22/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi antar gereja sekaligus memperkokoh komitmen menjaga kerukunan umat beragama di wilayah Kediri dan sekitarnya.

Dalam sambutannya, Wali Kota yang akrab disapa Mbak Wali menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta Muskerwil serta berharap forum tersebut mampu menghasilkan berbagai program yang membawa manfaat bagi organisasi maupun masyarakat.

"Saya mengucapkan selamat datang dan selamat bermusyawarah kepada seluruh peserta Musyawarah Kerja Wilayah BAMAG se-Eks Karesidenan Kediri. Semoga forum ini menjadi ruang penuh hikmat untuk mempererat kebersamaan, memperkuat komitmen pelayanan, sekaligus merumuskan langkah-langkah terbaik bagi BAMAG ke depan," ujarnya.

Mbak Wali menegaskan bahwa keberagaman merupakan anugerah yang harus terus dijaga bersama. Menurutnya, kerukunan di tengah masyarakat tidak hadir dengan sendirinya, melainkan dibangun melalui komunikasi yang baik, sikap saling menghormati, dan kemauan untuk berjalan bersama meski memiliki latar belakang yang berbeda.

Dalam konteks tersebut, BAMAG dinilai memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai wadah berhimpunnya gereja-gereja, tetapi juga sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat persaudaraan, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, serta menjaga kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis.

"Untuk itu, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi seluruh keluarga besar BAMAG. Berbagai pelayanan sosial, pembinaan umat, hingga keterlibatan dalam menjaga kerukunan antarumat beragama telah menjadi kontribusi nyata yang patut kita syukuri bersama," ungkapnya.

Wali Kota juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan, untuk terus berkolaborasi menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkembang. Menurutnya, penguatan karakter generasi muda, peningkatan kepedulian sosial, hingga menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan sinergi semua pihak.

Ia berharap BAMAG terus berkembang menjadi organisasi yang adaptif, mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memperkuat semangat toleransi, serta menjadi teladan dalam membangun kehidupan yang rukun dan saling menghargai.

"Selamat bermusyawarah kepada seluruh peserta Muskerwil BAMAG se-Eks Karesidenan Kediri. Mari jadikan forum ini sebagai ruang untuk saling mendengarkan, saling menguatkan, dan menyatukan langkah," pesannya.

Mbak Wali optimistis setiap keputusan yang dihasilkan melalui semangat persaudaraan akan melahirkan program-program yang semakin berkualitas dan mampu memperkuat kontribusi BAMAG dalam mendukung pembangunan daerah sekaligus menjaga kerukunan antarumat beragama.

Sementara itu, Ketua BAMAG Provinsi Jawa Timur, Pendeta Daniel Sugianto, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kediri atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada gereja-gereja di Kota Kediri.

Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam kegiatan tersebut menjadi simbol hubungan yang harmonis antara pemerintah daerah dengan umat beragama.

Ia menjelaskan, Muskerwil tidak hanya menjadi forum penyusunan program kerja, tetapi juga momentum melakukan evaluasi, memperkuat koordinasi, menyelaraskan visi, serta menyusun langkah bersama agar keberadaan BAMAG semakin memberi manfaat bagi gereja maupun masyarakat luas.

"BAMAG adalah wadah kebersamaan gereja-gereja yang ada. Perbedaan tidak boleh menjadi penghalang, namun justru menjadi kekuatan untuk bersama-sama membangun Kota Kediri. Bersatu bukan berarti harus seragam, tetapi saling menghormati dalam perbedaan," ujar Pendeta Daniel.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Bakesbangpol Syamsul Bahri, Anggota DPRD Kota Kediri Bambang Giantoro, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Yono Heryadi, Ketua Korwil BAMAG Eks Karesidenan Kediri Pendeta Yosia Prasetyanto, Ketua BAMAG Kota Kediri Filipus Suwarno, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Moh. Salim, serta para tokoh agama dan tamu undangan lainnya.

Melalui Muskerwil VI BAMAG Jawa Timur ini, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara organisasi keagamaan, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga toleransi, mempererat persaudaraan, serta mendukung pembangunan yang inklusif di wilayah se-Eks Karesidenan Kediri.(red/lis)

Peringati Hari Anak Nasional, Mbak Wali Mengajar Langsung di TK Dharma Wanita Tempurejo I


(photo by pemkot kediri)


KOTA KEDIRI – Wali Kota Kediri sekaligus Bunda PAUD Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menjadi guru sehari dalam kegiatan Gerakan Inspirasi Bunda PAUD Mengajar Sehari (IBUJARI) di TK Dharma Wanita Tempurejo I, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari inovasi Bunda PAUD Kota Kediri untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus menanamkan pendidikan karakter kepada anak sejak usia dini.

Dalam suasana penuh keceriaan, Vinanda mengajak anak-anak belajar melalui berbagai aktivitas interaktif. Dengan metode belajar sambil bermain, ia mengenalkan berbagai kebiasaan baik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti disiplin, sopan santun, menjaga kebersihan, serta saling menghormati.

Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan. Mereka secara bergantian maju ke depan untuk menceritakan dan mempraktikkan kebiasaan positif yang biasa dilakukan di rumah maupun di sekolah.

"Kita tahu bahwa pendidikan usia dini memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter. Anak-anak kita harus memiliki pemikiran yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing. Terima kasih dan apresiasi kepada para pendidik usia dini yang telah mendidik dengan penuh kesabaran dan kasih sayang," ujar Vinanda.

Wali Kota yang akrab disapa Mbak Wali itu menjelaskan, Gerakan IBUJARI dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga anak-anak lebih mudah menyerap materi yang diberikan.

Menurutnya, pada usia dini anak belajar lebih efektif melalui aktivitas bermain. Karena itu, proses pembelajaran perlu dikemas secara kreatif agar mampu menumbuhkan rasa senang sekaligus membangun karakter positif.

"Di usia seperti ini anak-anak lebih banyak belajar sambil bermain. Kalau kita bisa memberikan lingkungan yang nyaman sekaligus mengajarkan nilai-nilai kebaikan, mereka akan lebih mudah menangkap apa yang diajarkan. Harapannya, materi yang diperoleh hari ini bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026, Mbak Wali juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memenuhi hak-hak anak.

Ia menegaskan bahwa menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga keluarga, sekolah, serta masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi seluruh pihak sangat diperlukan agar anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.

"Momentum Hari Anak ini menjadi pengingat bahwa menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi anak merupakan tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga orang tua dan seluruh masyarakat. Mari bergotong royong agar hak-hak anak dapat terpenuhi dengan baik," imbuhnya.

Selain memberikan pengalaman belajar bagi anak-anak, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi penyemangat bagi para guru PAUD dan TK yang setiap hari mendampingi proses tumbuh kembang peserta didik dengan penuh dedikasi.

Gerakan IBUJARI tidak hanya dilaksanakan oleh Bunda PAUD Kota Kediri, tetapi juga secara serentak melibatkan Bunda PAUD tingkat kecamatan dan kelurahan yang mengajar di sekolah-sekolah wilayah masing-masing.

Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Camat Pesantren Judi Kuntjoro, Bunda PAUD Kecamatan Pesantren, Bunda PAUD Kelurahan Tempurejo, Kepala Bidang Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Dinas Pendidikan Kota Kediri Sulthon, Kepala TK Dharma Wanita Tempurejo I Ani Wijiastuti, serta sejumlah tamu undangan.

Melalui Gerakan IBUJARI, Pemerintah Kota Kediri berharap pendidikan karakter dapat ditanamkan sejak usia dini melalui metode belajar yang menyenangkan sehingga mampu membentuk generasi yang berakhlak, kreatif, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan di masa mendatang.(red/lis)

Rabu, 22 Juli 2026

Tak Ada Potensi Hujan Ekstrem, BMKG Minta Warga Kediri Raya Tetap Waspada Angin Kencang

 

lustrasi angin kencang.(photo by radar kediri)


KEDIRI
– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri memperbarui peringatan dini cuaca untuk wilayah Kediri Raya. Berdasarkan prakiraan cuaca periode Kamis (23/7) hingga Jumat (24/7), tidak terdapat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem maupun hujan disertai petir. Namun, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang yang diperkirakan masih terjadi dalam dua hari ke depan.

Peringatan angin kencang tersebut mencakup wilayah Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, hingga Kabupaten Trenggalek. Meski cuaca pada umumnya diprakirakan cerah hingga berawan, embusan angin yang cukup kuat berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.

Dalam pembaruan informasi cuaca, BMKG menyatakan seluruh wilayah di Kediri Raya berada pada status nihil untuk kategori hujan sedang hingga lebat (waspada), hujan lebat hingga sangat lebat (siaga), hujan sangat lebat hingga ekstrem (awas), maupun hujan yang disertai petir. Dengan demikian, potensi cuaca yang perlu diantisipasi selama periode tersebut lebih didominasi oleh angin kencang dibandingkan hujan.

Kondisi ini merupakan karakteristik musim kemarau yang saat ini masih berlangsung di sebagian besar wilayah Jawa Timur. Meski minim hujan, kecepatan angin pada musim kemarau dapat meningkat sehingga berpotensi menimbulkan berbagai dampak, terutama di kawasan terbuka.

BMKG mengingatkan bahwa angin kencang dapat menyebabkan pohon tumbang, dahan patah, baliho atau papan reklame roboh, hingga kerusakan ringan pada bangunan yang atapnya kurang kuat. Selain itu, kondisi tersebut juga berisiko mengganggu keselamatan pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor maupun kendaraan bertubuh tinggi yang melintas di jalur terbuka.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat diimbau tidak berteduh di bawah pohon besar maupun papan reklame saat angin bertiup kencang. Warga juga diminta memastikan atap rumah, genting, serta benda-benda yang berada di luar ruangan dalam kondisi aman agar tidak terlepas dan membahayakan lingkungan sekitar.

Selain mewaspadai angin, masyarakat juga diingatkan untuk tetap menjaga kesehatan selama musim kemarau. Cuaca panas dan udara yang cenderung kering dapat memicu dehidrasi maupun gangguan saluran pernapasan akibat debu. Oleh karena itu, warga dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan masker ketika kualitas udara berdebu, serta memakai pelindung seperti topi, payung, atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.

Pemerintah daerah bersama masyarakat juga diimbau menghemat penggunaan air sebagai langkah antisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Penggunaan air secara bijak dinilai penting untuk menjaga ketersediaan pasokan, terutama di wilayah yang rawan mengalami kekeringan.

BMKG mengajak masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG agar memperoleh pembaruan prakiraan cuaca secara berkala. Dengan mengetahui kondisi cuaca lebih awal, masyarakat diharapkan dapat mengantisipasi potensi dampak angin kencang dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman selama musim kemarau.(red/lis)

Bupati Dhito Syukuri Pemanfaatan Gedung Setda Baru, ASN Mulai Tempati Ruangan

 

(photo by radar kediri)


KEDIRI
– Gedung Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Kediri kini mulai difungsikan kembali secara bertahap setelah proses rehabilitasi selesai. Sejumlah bagian di lingkungan Sekretariat Daerah beserta beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) telah menempati gedung tersebut dan kembali menjalankan aktivitas pemerintahan.

Pemanfaatan gedung dilakukan secara bertahap menyesuaikan kesiapan sarana dan prasarana di masing-masing ruangan. Perlengkapan kerja seperti meja, kursi, perangkat komputer, hingga fasilitas pendukung lainnya dipastikan telah tersedia sebelum pegawai mulai menempati ruangan baru.

Sebagaimana diketahui, Gedung Setda Kabupaten Kediri mengalami kerusakan akibat kerusuhan yang terjadi pada Agustus 2025. Setelah melalui proses perbaikan yang didukung pemerintah pusat, bangunan tersebut akhirnya rampung direhabilitasi dan kini siap digunakan kembali sebagai pusat administrasi pemerintahan daerah.

Sebagai tanda dimulainya pemanfaatan gedung, Pemerintah Kabupaten Kediri menggelar syukuran yang dipimpin langsung oleh Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.

Bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu menjelaskan, sejumlah bagian telah lebih dahulu menempati gedung baru. Di antaranya Bagian Umum, Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Bagian Perekonomian, Bagian Tata Pemerintahan, Bagian Organisasi, serta Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa (UKPBJ).

Sementara itu, Bagian Hukum, Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim), serta beberapa bagian lainnya masih dalam tahap persiapan pemindahan.

"Sebagian sudah, namun ada yang mulai persiapan pindah," ujar Dhito.

Menurutnya, proses perpindahan tidak dilakukan secara bersamaan agar aktivitas pemerintahan tetap berjalan dengan baik. Setiap bagian baru akan menempati ruangan setelah seluruh perlengkapan kerja selesai dipasang sehingga pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.

Ia juga menegaskan tidak menetapkan target waktu tertentu bagi seluruh OPD untuk menempati gedung tersebut. Yang menjadi prioritas adalah memastikan setiap ruangan benar-benar siap digunakan sehingga pegawai dapat langsung bekerja secara optimal.

"Kalau sudah ada alatnya mereka langsung masuk," jelasnya.

Dhito berharap gedung yang telah direhabilitasi itu mampu memberikan suasana kerja yang lebih nyaman bagi aparatur sipil negara (ASN). Dengan lingkungan kerja yang lebih representatif, diharapkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat juga semakin meningkat.

"Semoga dengan adanya bangunan yang baru ini, yang saya rasa sangat layak, bisa memberikan manfaat. Tidak hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga meningkatkan pelayanan kepada masyarakat," ungkapnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan proses pemindahan masih terus berlangsung. Sejumlah pegawai tampak mengangkut berbagai peralatan kerja, mulai dari meja, kursi, dokumen hingga perlengkapan administrasi lainnya menuju gedung Sekretariat Daerah. Aktivitas tersebut dilakukan secara bertahap agar operasional pemerintahan tetap berjalan normal selama masa transisi.

Dengan kembali difungsikannya Gedung Setda Kabupaten Kediri, pemerintah daerah berharap seluruh pelayanan administrasi dan koordinasi antarperangkat daerah dapat berlangsung lebih efektif. Selain menjadi simbol pulihnya fasilitas pemerintahan pascakerusakan, gedung yang telah direhabilitasi itu juga diharapkan mampu mendukung peningkatan kinerja birokrasi serta memberikan pelayanan publik yang semakin prima kepada masyarakat.(red/lis)

Selasa, 21 Juli 2026

Bekali Siswa Keterampilan Pertolongan Pertama, Dinkes Kediri Gelar Sosialisasi BHD di Sekolah


Tim 119 Dinkes Kabupaten Kediri sosialisasikan Bantuan Hidup Dasar (bhd) ke siswa MAN I Kediri di Tarokan Senin siang(photo by koranmemo)


KEDIRI
– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri terus mendorong peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada pelajar tingkat sekolah menengah.

Kegiatan tersebut diawali di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kediri, Kecamatan Tarokan, Senin (20/7/2026) pagi. Sosialisasi ini dijadwalkan berlangsung hingga 24 Juli 2026 dengan menyasar sejumlah madrasah dan sekolah di Kabupaten Kediri.

Setelah MAN 1 Kediri, kegiatan serupa akan dilanjutkan ke MAN 2 Kediri, MAN 3 Kediri, MAN 4 Kediri, dan MAN 5 Kediri. Sebelumnya, Dinkes Kabupaten Kediri juga telah memberikan pelatihan serupa kepada siswa SMA Negeri 1 Plosoklaten, SMA Negeri 1 Plemahan, serta sejumlah SMA negeri lainnya.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Kesehatan Rujukan Dinkes Kabupaten Kediri Novianti Indah Fatmawati, SKM., M.Kes., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan bekal keterampilan dasar kepada siswa agar mampu memberikan pertolongan awal ketika menghadapi kondisi darurat.

Menurutnya, peserta kegiatan berasal dari masing-masing sekolah dengan jumlah sekitar 40 siswa. Mayoritas peserta merupakan anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang dinilai memiliki peran penting dalam membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih tanggap terhadap situasi darurat.

"Kegiatan digelar satu hari di masing-masing sekolah dengan durasi sekitar tiga jam dan menghadirkan dua pemateri. Maksud dan tujuannya adalah memberi pembekalan keterampilan kepada siswa agar peduli terhadap situasi gawat darurat akut ketika melihat temannya atau warga di lingkungannya mengalami kondisi seperti kesetrum, pingsan, tersedak, maupun serangan jantung mendadak," jelas Novianti.

Dalam pelatihan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung mengenai cara memberikan pertolongan yang tepat, cepat, dan benar.

Melalui pelatihan BHD ini, para siswa diharapkan memiliki keberanian dan kemampuan dasar untuk melakukan tindakan awal sebelum bantuan medis datang. Dengan demikian, risiko fatal akibat keterlambatan penanganan dapat diminimalkan.

Novianti menjelaskan, masyarakat yang membutuhkan bantuan dalam kondisi kegawatdaruratan juga dapat menghubungi layanan cepat tanggap Dinkes Kabupaten Kediri melalui command center 119 atau nomor 085212117119.

"Kami siap 24 jam. Jika jarak 10 kilometer pasti kami segera ke lokasi sebagai bentuk respon cepat, atau masyarakat juga dapat menghubungi Puskesmas terdekat yang siap menangani kondisi gawat darurat," katanya.

Dinkes Kabupaten Kediri sendiri memiliki 37 Puskesmas yang tersebar di berbagai wilayah. Seluruh fasilitas tersebut diharapkan mampu memberikan pelayanan cepat ketika masyarakat membutuhkan pertolongan medis.

Lebih lanjut, Novianti berharap siswa yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menjadi agen informasi di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan mampu menyebarkan pengetahuan tentang pentingnya pertolongan pertama kepada teman, keluarga, maupun masyarakat sekitar.

"Harapannya siswa yang mengikuti sosialisasi dan pelatihan ini bisa memberikan informasi secara benar kepada teman, tetangga, atau warga yang mereka kenal," pungkasnya.

Melalui program tersebut, Dinkes Kabupaten Kediri ingin membangun kesadaran masyarakat sejak usia sekolah agar lebih peduli dan sigap ketika menemukan seseorang yang membutuhkan pertolongan dalam kondisi darurat.(red/lis)

Cegah Kebocoran Retribusi, Pemkab Kediri Terapkan Pembayaran Digital di Pasar Tradisional


             Mas Dhito dan Kepala Disdagrin Kabupaten Kediri dialog dengan pedagang di Pasar Wates (photo by koranmemo)


KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri terus mendorong transformasi digital di sektor perdagangan rakyat. Salah satunya melalui perluasan penerapan sistem pembayaran dan pencatatan retribusi secara non tunai di sejumlah pasar tradisional.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan, program digitalisasi pasar rakyat sebelumnya telah diterapkan di Pasar Induk Pare dan Pasar Kras. Tahun 2026, penerapan sistem tersebut akan diperluas ke sejumlah pasar lainnya.

Pasar yang menjadi target perluasan digitalisasi antara lain Pasar Wates, Pasar Bendo, Pasar Gringging, Pasar Pamenang, serta Pasar Ngadiluwih.

"Digitalisasi ini dilakukan untuk mencegah potensi kebocoran retribusi, karena transaksi langsung masuk ke kas daerah, termasuk pula meminimalisir terjadinya pungli," ujar Tutik, Senin (20/7/2026).

Menurutnya, penerapan sistem pembayaran digital diharapkan mampu meningkatkan transparansi pengelolaan pasar. Dengan pencatatan transaksi yang lebih tertata, pemerintah daerah juga berharap dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor e-retribusi maupun e-parking.

"Ini sesuai dengan arahan Mas Bupati (Hanindhito Himawan Pramana) terkait peningkatan PAD tetapi tidak membebani pedagang," ungkapnya.

Dalam proses persiapan, Disdagrin Kabupaten Kediri menggandeng pihak perbankan untuk melakukan sosialisasi kepada para pedagang dan pengelola pasar. Nantinya, pedagang yang telah memiliki rekening akan dibuatkan barcode untuk mendukung transaksi menggunakan QRIS sekaligus pembayaran retribusi.

Selain membantu pemerintah dalam pengelolaan retribusi, sistem pembayaran digital juga dinilai memberikan manfaat bagi pedagang. Sebab, kebiasaan masyarakat dalam melakukan transaksi secara non tunai terus meningkat, baik melalui mobile banking maupun dompet digital.

Dengan adanya fasilitas pembayaran digital, pedagang diharapkan mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen sehingga transaksi di pasar rakyat menjadi lebih mudah dan praktis.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap memperhatikan kondisi pedagang, terutama yang sudah berusia lanjut dan belum terbiasa menggunakan layanan digital. Untuk itu, koordinasi dengan pihak perbankan dilakukan agar petugas laku pandai dapat ditempatkan di pasar.

Petugas tersebut nantinya akan membantu pedagang dalam berbagai kebutuhan transaksi perbankan, seperti menabung maupun layanan lainnya, tanpa harus datang langsung ke kantor bank.

"Melalui penerapan digitalisasi pasar rakyat ini kita berharap kepercayaan masyarakat khususnya pedagang juga meningkat karena pungutan menjadi lebih jelas," pungkas Tutik.

Melalui program tersebut, Pemkab Kediri berharap pasar rakyat tidak hanya semakin tertib dalam pengelolaan administrasi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta memberikan pelayanan yang lebih transparan bagi pedagang dan masyarakat.(red/lis)

Senin, 20 Juli 2026

Hak Kelola Hutan Dipersoalkan, Dua Massa Berseberangan Datangi Perhutani KPH Kediri


MENYOAL LAHAN PERHUTANI: Massa dari Paguyuban Petani Kelud Raya membawa sejumlah spanduk saat demo mempertahankan perjanjian kerja sama pengelolaan lahan hutan yang disoal oleh massa dari Serikat Pekerja Kebun SPSI Kediri. Foto kanan, polisi dan TNI memasang barikade untuk memisahkan massa dari Serikat Pekerja Kebun SPSI Kediri (baju biru). (photo by radar kediri)



KEDIRI
– Kantor Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kediri menjadi pusat aksi unjuk rasa dua kelompok masyarakat dengan tuntutan berbeda pada Selasa pagi. Ratusan petani dari lereng Gunung Kelud mendatangi kantor Perhutani untuk menyuarakan aspirasi terkait pengelolaan lahan hutan.

Karena kedua kelompok memiliki kepentingan yang berbeda, aparat gabungan dari TNI dan Polri menerjunkan personel untuk melakukan pengamanan dan memasang barikade agar massa tidak saling berhadapan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, lebih dari 500 anggota Paguyuban Petani Kelud Raya datang menggunakan truk dan kereta kelinci. Mereka berasal dari lima kecamatan, yakni Kandangan, Kepung, Puncu, Plosoklaten, dan Kunjang.

Sementara itu, massa dari Serikat Pekerja Kebun Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kabupaten Kediri tiba menggunakan kendaraan elf dan sepeda motor. Kedua kelompok ditempatkan di sisi yang berbeda selama aksi berlangsung.

Paguyuban Petani Minta Kemitraan Tetap Dipertahankan

Ketua Paguyuban Petani Kelud Raya, Sugianto, mengatakan aksi yang dilakukan bertujuan mempertahankan hak para petani yang selama ini menjadi mitra resmi Perhutani melalui perjanjian kerja sama (PKS) pengelolaan kawasan hutan.

Menurutnya, kemitraan tersebut telah terjalin sejak tahun 2005 dan selama ini berjalan tanpa persoalan.

"Kami datang untuk mempertahankan hak kami. Kami bukan mencari musuh, tetapi kalau ada yang mengganggu hak kami tentu akan kami hadapi sesuai aturan. Kami tetap mendukung Perhutani," ujarnya saat berorasi.

Ia menjelaskan, anggota paguyuban saat ini mengelola kawasan hutan seluas lebih dari 2.000 hektare yang tersebar di lima kecamatan di lereng Gunung Kelud.

Selama menjadi mitra Perhutani, kata dia, tidak pernah terjadi konflik antara kelompok tani dengan pihak pengelola hutan.

"Tidak pernah ada masalah dengan Perhutani," tegasnya.

Sugianto mengaku tidak mengetahui secara rinci tuntutan kelompok lain. Namun ia menduga aksi tersebut berkaitan dengan persoalan hak pengelolaan lahan yang selama ini dikerjakan para petani mitra.

Menurutnya, tujuan utama paguyuban adalah menjaga kelestarian kawasan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

SPSI Tuntut Transparansi Pengelolaan Lahan

Di sisi lain, massa dari Serikat Pekerja Kebun SPSI Kabupaten Kediri menyampaikan tuntutan berbeda. Mereka berorasi di sisi barat kantor Perhutani sambil membawa spanduk yang berisi desakan terkait tata kelola lahan hutan.

Anggota SPSI Kabupaten Kediri, Lucius Sugianto, mengatakan pihaknya menilai hak pengelolaan yang diperjuangkan selama ini belum pernah diberikan secara jelas kepada masyarakat.

"Sebagai anggota Serikat Pekerja Kebun SPSI Kabupaten Kediri, hak kami sampai sekarang belum pernah diberikan," katanya.

Dalam aksinya, SPSI menyampaikan tiga tuntutan utama kepada Perhutani.

Pertama, meminta dilakukan penyelidikan, penyidikan, serta proses hukum secara menyeluruh terhadap tata kelola di Perhutani KPH Kediri, termasuk pengelolaan hak garap, keuangan, dana sharing pra-tanam, dan dana sharing produksi di kawasan hutan Desa Manggis, Kecamatan Ngancar.

Kedua, mereka meminta seluruh lahan Perhutani yang saat ini dikelola bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Manggis ditetapkan dalam kondisi status quo hingga terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Ketiga, massa mendesak agar setiap dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan lahan ditindak sesuai ketentuan hukum.

Lucius mengungkapkan, pihaknya menilai tidak ada laporan pertanggungjawaban yang terbuka terkait pengelolaan lahan sejak tahun 2017.

"Selama ini tidak pernah ada transparansi sehingga masyarakat mempertanyakan hak pengelolaan yang seharusnya mereka peroleh," ujarnya.

Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan pengelolaan lahan seluas sekitar 1.200 hingga 1.300 hektare.

Sebelum menggelar aksi, SPSI mengaku telah menempuh berbagai langkah, mulai dari mengirim surat permintaan klarifikasi, audiensi, somasi, hingga membuat laporan kepada kepolisian.

"Aksi ini kami lakukan agar aparat penegak hukum segera menindaklanjuti dan mengusut persoalan yang terjadi di wilayah kami," katanya.

Perhutani Belum Beri Keterangan

Hingga aksi berakhir, kedua kelompok tetap menyampaikan aspirasi secara terpisah di bawah pengamanan aparat gabungan. Arus lalu lintas di sekitar Jalan Hasanudin sempat mengalami perlambatan akibat banyaknya massa yang berkumpul di depan kantor Perhutani KPH Kediri.

Sementara itu, pihak Perhutani KPH Kediri belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan yang disampaikan kedua kelompok tersebut.(red/lis)

Second Account: Cara Gen Z Mengekspresikan Diri Tanpa Tekanan Media Sosial


Ilustrasi Pinterest(photo by radar kediri)


KEDIRI
– Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, tetapi juga mengubah pola interaksi di media sosial. Salah satu fenomena yang kini semakin banyak dijumpai, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z), adalah penggunaan second account atau akun kedua di Instagram.

Berbeda dengan akun utama yang umumnya dimanfaatkan untuk membangun citra diri atau personal branding, akun kedua justru menjadi ruang yang lebih privat. Di sana, pengguna merasa lebih leluasa membagikan cerita, aktivitas sehari-hari, hingga berbagai hal yang bersifat personal tanpa khawatir dinilai oleh banyak orang.

Akun kedua biasanya diatur dalam mode privat dengan jumlah pengikut yang terbatas. Sebagian besar pengikutnya merupakan keluarga, sahabat, atau teman dekat yang telah dipilih secara khusus oleh pemilik akun.

Kondisi tersebut membuat pengguna merasa lebih nyaman dalam mengekspresikan diri. Konten yang diunggah pun cenderung lebih spontan, mulai dari foto keseharian (photo dump), curahan hati, hingga berbagai momen sederhana yang mungkin tidak pernah dipublikasikan di akun utama.

Menjadi Ruang Aman di Tengah Tekanan Media Sosial

Fenomena second account muncul sebagai respons terhadap tingginya tekanan di media sosial. Banyak pengguna, khususnya anak muda, merasa akun utama menuntut mereka untuk selalu menampilkan sisi terbaik kehidupan, mulai dari prestasi, penampilan, hingga gaya hidup.

Akibatnya, tidak sedikit yang merasa harus menjaga citra agar tetap terlihat sempurna di mata orang lain.

Melalui akun kedua, tekanan tersebut berkurang karena audiens yang melihat unggahan merupakan orang-orang terdekat yang dianggap lebih memahami kondisi pribadi pemilik akun.

Bagi sebagian pengguna, akun kedua juga menjadi media untuk berbagi cerita ketika menghadapi masalah atau tekanan emosional. Dukungan yang diberikan teman dekat melalui komentar maupun pesan pribadi sering kali membantu mengurangi beban pikiran dan memberikan rasa diterima.

Selain itu, komunikasi di akun kedua biasanya berlangsung lebih terbuka sehingga hubungan antarpengguna terasa lebih akrab dibandingkan interaksi di akun utama yang memiliki jangkauan lebih luas.

Risiko Oversharing dan Ketergantungan Validasi

Meski memberikan rasa aman, penggunaan second account tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.

Salah satunya adalah kecenderungan melakukan oversharing, yakni membagikan informasi pribadi secara berlebihan. Perasaan nyaman sering kali membuat seseorang tanpa sadar mengungkapkan hal-hal yang seharusnya tetap menjadi ranah pribadi.

Tidak jarang, pengguna baru menyadari dampaknya setelah informasi tersebut telanjur tersebar di media sosial.

Selain itu, kebiasaan mencurahkan perasaan di akun kedua juga berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadap validasi dari orang lain. Pengguna bisa mulai mengharapkan respons berupa komentar, tanda suka (likes), atau dukungan setiap kali mengunggah cerita.

Ketika respons yang diharapkan tidak diperoleh, kondisi tersebut dapat memengaruhi suasana hati, bahkan memunculkan rasa kecewa atau tidak dihargai.

Bijak Menggunakan Media Sosial

Second account pada dasarnya dapat menjadi ruang yang sehat untuk mengekspresikan diri apabila digunakan secara bijaksana. Namun, pengguna tetap perlu memahami batasan mengenai informasi pribadi yang layak dibagikan di media sosial.

Apabila menghadapi persoalan emosional yang berkepanjangan, berdiskusi secara langsung dengan keluarga, sahabat, atau tenaga profesional tetap menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan bergantung pada respons di media sosial.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah salah satu sarana komunikasi. Menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan interaksi nyata menjadi langkah penting agar media sosial tetap memberikan manfaat tanpa mengganggu kesehatan mental maupun kehidupan pribadi.(red/lis)

Minggu, 19 Juli 2026

Sinergi Tiga Pilar dan Mahasiswa KKN Wujudkan Ketahanan Pangan di Kota Kediri


Bhabinkamtibmas Kelurahan Singonegaran Bripka M. Rifai ikut menanam bibit terong bersama Tiga Pilar dan mahasiswa KKN di Kota Kediri.--(photo by radar kediri)



KEDIRI
– Upaya memperkuat ketahanan pangan terus dilakukan di berbagai wilayah, termasuk di Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Tiga Pilar Kelurahan Singonegaran bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan kegiatan penanaman bibit terong di kawasan Gedung Serbaguna Grogol, RT 38 RW 08, Minggu (19/7).

Kegiatan tersebut melibatkan Bhabinkamtibmas Kelurahan Singonegaran Bripka M. Rifai, unsur Tiga Pilar, perangkat kelurahan, serta mahasiswa KKN yang tengah menjalankan program pengabdian kepada masyarakat di wilayah tersebut.

Penanaman bibit terong dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya belum digunakan secara optimal. Lahan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi area produktif yang mampu mendukung kebutuhan pangan masyarakat sekaligus menjadi contoh pemanfaatan lahan kosong di lingkungan permukiman.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Singonegaran, Bripka M. Rifai, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara kepolisian, pemerintah kelurahan, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mendukung program ketahanan pangan. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa KKN juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya memanfaatkan lahan yang tersedia untuk ditanami tanaman produktif.

"Melalui kegiatan ini kami berharap masyarakat semakin termotivasi memanfaatkan lahan yang ada sebagai sumber pangan keluarga sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional," ujarnya.

Selain menghasilkan manfaat ekonomi dan pangan bagi masyarakat, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kepedulian warga terhadap pengelolaan lingkungan. Pemanfaatan lahan kosong menjadi kebun produktif dinilai mampu menciptakan lingkungan yang lebih hijau sekaligus memberikan nilai tambah bagi kebutuhan rumah tangga.

Bripka Rifai menambahkan bahwa kolaborasi semacam ini menjadi bagian dari upaya membangun kemitraan yang kuat antara aparat keamanan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Melalui kerja sama tersebut, berbagai program pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

Polres Kediri Kota melalui peran Bhabinkamtibmas juga terus mendorong partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan. Selain menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat, kehadiran Bhabinkamtibmas diharapkan mampu menjadi penggerak berbagai program sosial, termasuk ketahanan pangan, sehingga tercipta lingkungan yang aman, mandiri, produktif, dan sejahtera.(red/lis)

Pria 51 Tahun Ditemukan Meninggal Mengambang di Sumber Air Ngasem, Polisi Pastikan Tak Ada Tanda Kekerasan

Heboh penemuan pria tewas di Sumber Kweden Kediri.(PHOTO BY RADAR KEDIRI)


 Kediri – Seorang pria berinisial IB (51), warga Dusun Kweden, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengambang di sebuah sumber air pada Minggu (19/7) sekitar pukul 05.30 WIB.

Penemuan jenazah tersebut menggegerkan warga sekitar. Polisi yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) bersama Tim Inafis Polres Kediri dan tenaga medis dari Puskesmas Ngasem memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Atas permintaan keluarga, jenazah tidak menjalani autopsi dan langsung diserahkan untuk dimakamkan.

Korban pertama kali ditemukan oleh seorang penjaga area pasar yang sedang berpatroli di sekitar lokasi sumber air. Saat melakukan pengecekan rutin, saksi melihat tubuh korban mengambang di permukaan air. Temuan itu kemudian segera dilaporkan kepada perangkat desa dan diteruskan ke Polsek Ngasem.

Mendapat laporan tersebut, petugas kepolisian bersama Tim Inafis Polres Kediri dan tenaga kesehatan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan proses identifikasi serta pemeriksaan awal terhadap korban.

Hasil pemeriksaan luar menunjukkan tidak ditemukan luka maupun tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Selain itu, kondisi jenazah juga belum mengalami pembusukan sehingga diperkirakan korban meninggal dunia sekitar tiga jam sebelum ditemukan.

Berdasarkan keterangan keluarga, IB diketahui meninggalkan rumah seorang diri sekitar pukul 03.00 WIB. Ia diduga menuju sumber air yang berada sekitar 30 meter dari tempat tinggalnya. Sekitar dua jam kemudian, korban ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di dalam sumber air dengan kedalaman kurang lebih satu meter.

Kapolsek Ngasem, Iptu Bambang Supaku, mengatakan hasil penyelidikan sementara tidak mengarah pada dugaan tindak pidana. Dari keterangan sejumlah saksi, korban diketahui memiliki kebiasaan mandi di sumber air tersebut pada waktu dini hari.

"Hasil pemeriksaan luar tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Berdasarkan keterangan saksi, korban juga memiliki kebiasaan mandi di sumber air setiap dini hari," ujar Bambang.

Selain itu, polisi juga memperoleh informasi bahwa korban telah lama menjalani pengobatan gangguan kejiwaan di puskesmas setempat. Korban juga diketahui memiliki riwayat penyakit hipertensi dan diabetes.

Meski demikian, penyebab pasti kematian tidak dapat dipastikan karena keluarga menolak dilakukan autopsi. Pihak keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan telah membuat surat pernyataan penolakan autopsi yang diketahui oleh pemerintah desa setempat.

Setelah seluruh proses identifikasi, pemeriksaan medis, dan olah TKP selesai dilakukan, jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Polisi memastikan seluruh penanganan telah dilakukan sesuai prosedur dan hingga kini tidak ditemukan indikasi adanya unsur pidana dalam peristiwa tersebut.(red/lis)

Sabtu, 18 Juli 2026

Stadion Brawijaya Dipenuhi 10 Ribu Pramuka, Wujudkan Generasi Peduli Ketahanan Pangan


Walikota Kediri Vinanda Prameswati di acara apel akbar pramuka gerakan ketahanan pangan 2026.(photo by radar kediri)

KEDIRI,  – Sebanyak 10 ribu pelajar SMP dan SMA sederajat mengikuti Apel Akbar Pramuka Penggerak Ketahanan Pangan 2026 yang digelar di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan kolaborasi Pemerintah Kota Kediri dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini menjadi ajang pembentukan karakter sekaligus menanamkan kesadaran pentingnya ketahanan pangan sejak usia dini.

Apel akbar yang dimulai sekitar pukul 15.30 WIB tersebut untuk pertama kalinya diselenggarakan dan mendapat sambutan antusias dari ribuan peserta. Acara semakin semarak dengan penampilan Drumband SMAN 5 Taruna Brawijaya serta hiburan dari penyanyi Niken Salindry.

Salah seorang peserta, Tarisa Ayu, siswi SMAN 6 Kota Kediri, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman baru sekaligus kesempatan memperluas pertemanan.

"Sangat antusias mengikuti acara ini. Baru pertama kali juga ikut," ujarnya.

Menurut Tarisa, keberadaan berbagai Satuan Karya (Saka) Pramuka yang dibina sejumlah instansi seperti Damkar, Satpol PP, BNN, dan lembaga lainnya menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta.

"Kan ada Saka di bawah naungan dinas, seperti Damkar, Satpol PP, BNN, dan lainnya. Tinggal memilih yang paling diminati," katanya.

Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah untuk membentuk karakter generasi muda sekaligus mempersiapkan calon pemimpin masa depan.

"Melalui kegiatan ini kami ingin membina generasi muda agar memiliki karakter yang kuat dan kelak mampu meneruskan perjuangan sebagai pemimpin masa depan," ujarnya.

Mengusung tema ketahanan pangan, Vinanda berharap para pelajar mulai mengenal cara bercocok tanam, memanfaatkan lahan sempit, hingga mengembangkan pertanian modern melalui sistem hidroponik maupun teknologi lainnya.

Menurutnya, sekolah-sekolah di Kota Kediri akan didorong memanfaatkan lahan yang tersedia menjadi area produktif sehingga siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan konsep ketahanan pangan secara langsung.

Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda rutin setiap tahun dengan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengapresiasi pelaksanaan apel akbar tersebut karena dinilai sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Ini merupakan salah satu program pemerintah yang dipimpin Presiden Prabowo untuk mengembalikan jati diri Indonesia sebagai negara agraris dengan potensi pertanian yang besar," jelasnya.

Aries menambahkan, saat ini berbagai SMA di Jawa Timur telah mulai mengembangkan program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) sebagai sarana menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap sektor pertanian.

Melalui program tersebut, para pelajar diharapkan memiliki jiwa yang tangguh, memahami pentingnya ketahanan pangan, serta semakin mencintai potensi pertanian yang dimiliki Indonesia..(red/lis)


Atlet Panjat Tebing Asal Kediri Sabet Emas World Climbing Series Praha 2026

  

CAIR: Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menyerahkan bonus prestasi kepada Putra Tri Ramadani di ruang kerjanya(photo by radar kediri)

KEDIRI,  – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan atlet panjat tebing asal Kota Kediri, Putra Tri Ramadani. Atlet yang akrab disapa Srondeng itu sukses meraih medali emas pada World Climbing Series Praha 2026 serta medali perunggu di World Climbing Series Chamonix 2026, Prancis, mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional.

Sepulang dari kompetisi dunia, Putra mendapat sambutan dan apresiasi dari Pemerintah Kota Kediri. Momen tersebut berlangsung di Balai Kota Kediri, Kamis (16/7/2026), saat KONI Kota Kediri mempertemukan atlet berprestasi itu dengan Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati.

Sebagai bentuk penghargaan atas prestasi yang diraih, Pemerintah Kota Kediri bersama KONI Kota Kediri menyerahkan bonus sebesar Rp10 juta kepada Putra Tri Ramadani.

Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, mengapresiasi pencapaian Putra yang dinilai mampu mengharumkan nama Kota Kediri sekaligus Indonesia di tingkat dunia.

"Luar biasa sekali prestasi Putra. Semoga semakin banyak atlet Kota Kediri yang mampu mengharumkan nama daerah dan Indonesia di kancah internasional," ujarnya.

Ketua KONI Kota Kediri, Eko Agus Koko, menyebut keberhasilan Putra menjadi bukti nyata bahwa pembinaan olahraga yang dilakukan secara berjenjang mampu melahirkan atlet berprestasi hingga level internasional.

Menurutnya, Putra merupakan salah satu atlet hasil program Pemusatan Latihan Kota (Puslatkot) yang selama ini menjadi wadah pembinaan atlet muda berbakat di Kota Kediri.

"Puslatkot adalah program pembibitan atlet-atlet potensial sejak usia dini. Program ini terbukti efektif melahirkan atlet yang mampu berprestasi mulai dari Porprov, PON, hingga mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional," jelasnya.

Meski baru saja meraih dua prestasi membanggakan, Putra mengaku belum ingin berpuas diri. Atlet yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surabaya itu langsung mempersiapkan diri menghadapi target berikutnya, yakni meraih medali emas Asian Games 2026.

Dalam waktu dekat, Putra dijadwalkan kembali mengikuti Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di Bekasi sebagai bagian dari persiapan menghadapi Asian Games sekaligus mewujudkan cita-cita tampil di Olimpiade Los Angeles 2028.

"Target terdekat adalah Asian Games akhir September nanti. Setelah ini saya kembali menjalani Pelatnas di Bekasi. Target jangka panjang saya tentu bisa tampil di Olimpiade Los Angeles 2028," kata Putra.

Prestasi Putra Tri Ramadani diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Kota Kediri untuk terus berprestasi di bidang olahraga dan membawa nama Indonesia semakin diperhitungkan di panggung internasional.(red/lis)

Jumat, 17 Juli 2026

Musim Kemarau, Dua Kebakaran Lahan Terjadi di Kediri dalam Dua Hari

petugas saat menangani kebakaran(photo by radar kediri)


KEDIRI
– Memasuki musim kemarau, kasus kebakaran lahan mulai bermunculan di Kabupaten Kediri. Dalam kurun waktu dua hari, Kamis (16/7) hingga Jumat (17/7), petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Kediri menangani dua peristiwa kebakaran di Kecamatan Kandat dan Kecamatan Tarokan.

Tidak ada korban jiwa dalam kedua kejadian tersebut. Namun, total kerugian akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp55 juta.

Peristiwa pertama terjadi di tempat penyimpanan sepah tebu milik Bonari di Dusun Nggaluhan, Desa Kandat, Kecamatan Kandat. Laporan diterima petugas sekitar pukul 15.00 WIB dan Tim Damkar Pos Ngadiluwih segera menuju lokasi dengan dukungan armada dari Pos Pare.

Setelah berjibaku selama lebih dari dua jam, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 17.15 WIB.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, api diduga berasal dari kebakaran lahan tebu milik PG Ngadirejo yang berada di sekitar lokasi. Kobaran api kemudian merembet hingga membakar tumpukan sepah tebu.

Untuk memadamkan api, Damkar mengerahkan dua unit mobil pemadam berkapasitas 2.500 liter dan 5.000 liter serta sembilan personel.

Sehari kemudian, kebakaran kembali terjadi di lahan milik Endang di Dusun Selang, Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan.

Kebakaran diduga dipicu aktivitas pembakaran sampah oleh warga. Tiupan angin yang cukup kencang membuat api dengan cepat menyebar dan membakar lahan seluas kurang lebih dua hektare.

Karena lokasi kebakaran tidak dapat dijangkau kendaraan pemadam, petugas bersama warga melakukan pemadaman secara manual menggunakan metode gepyok serta membuat sekat bakar untuk menghentikan penyebaran api.

Upaya tersebut berhasil mengendalikan kobaran api sekitar pukul 15.03 WIB.

Akibat kebakaran di Tarokan, kerugian diperkirakan mencapai Rp5 juta, sementara aset senilai sekitar Rp50 juta berhasil diselamatkan dari amukan api.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Kabupaten Kediri, Kaleb Untung Satrio Wicaksono, mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah maupun lahan selama musim kemarau karena kondisi cuaca yang kering membuat api sangat mudah merembet.

"Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah ataupun lahan, terutama saat musim kemarau dan angin bertiup kencang. Api dapat dengan cepat membesar dan memicu kebakaran yang lebih luas," ujarnya.

Kaleb juga meminta masyarakat segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin sebelum kebakaran meluas.

Menurutnya, peran aktif masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kebakaran lahan, terutama saat musim kemarau ketika vegetasi kering sangat mudah terbakar.(red/lis)