Pasuruan, 7 November 2024, kediri24jam.online – Aksi protes dilakukan oleh seorang peternak sekaligus pengepul susu sapi di Kabupaten Pasuruan, Bayu Aji Handayanto, yang terpaksa membuang susu hasil panennya. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pihak industri susu yang dianggap tidak lagi berkomitmen penuh terhadap kontrak kerja sama yang telah disepakati selama 10 tahun.
Bayu mengungkapkan, sejak akhir September 2024, para peternak, yang sebagian besar berasal dari desa-desa di Pasuruan, terpaksa menjual susu hasil panen mereka ke koperasi atau pengepul susu. Namun, mulai bulan Oktober hingga saat ini, banyak pabrik susu yang mulai mencari-cari alasan untuk menolak pasokan susu dari para pengepul.
"Sejak September-Oktober hingga sekarang, pabrik banyak alasan, sehingga kami sebagai pengepul terpaksa membatasi jumlah susu yang masuk. Kalau memang tidak ada permintaan, kami terpaksa menolak pengiriman susu," ujar Bayu kepada detikJatim.
Susu yang tak laku, menurut Bayu, akhirnya dibuang begitu saja karena memiliki masa simpan yang sangat terbatas, hanya sekitar 48 jam. Bayu menjelaskan bahwa susu tersebut adalah susu segar yang seharusnya diproses untuk produk UHT dan pasteurisasi, namun terpaksa dibuang karena tidak bisa disalurkan ke masyarakat.
"Saya tidak bisa memberikan susu ini ke masyarakat karena jumlahnya ratusan ton. Menyalurkannya ke masyarakat memerlukan usaha besar dan logistik yang tidak memungkinkan," kata Bayu.
Penyebab Pembatasan Pengiriman Susu Menurut Bayu, pembatasan pasokan susu dilakukan oleh pabrik dengan alasan perbaikan mesin dan penurunan permintaan di pasar pada bulan November. Namun, yang mengejutkan, meski pasokan susu dalam negeri dibatasi, pabrik-pabrik susu tetap memproduksi produk mereka dengan menggunakan bahan baku susu impor.
"Seharusnya pabrik bisa menggunakan bahan baku susu dalam negeri, tetapi kenyataannya mereka malah memilih susu impor. Padahal harga susu lokal dan impor hampir sama," tegas Bayu.
Bayu juga menambahkan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi di Pasuruan, tetapi juga di wilayah lain seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat. Banyak peternak di seluruh Jawa yang menghadapi hal serupa, di mana susu mereka terpaksa dibuang karena tidak ada saluran untuk diproses oleh pabrik-pabrik susu.
"Ini bukan kejadian yang hanya terjadi di satu pabrik, tetapi hampir di seluruh Jawa. Saya punya videonya lengkap, dan teman-teman kami di seluruh wilayah saling berkoordinasi, tetapi tak ada yang berani berbicara terbuka. Mereka takut karena hubungan dengan program susu gratis yang sering digembar-gemborkan," tambahnya.
Harapan kepada Pemerintah Bayu berharap pemerintah dapat turun tangan untuk mencari solusi atas masalah ini. Dia juga menuntut agar industri susu lebih mengutamakan bahan baku dari dalam negeri ketimbang mengandalkan impor, mengingat harga yang tidak jauh berbeda.
"Semoga pemerintah bisa membantu mengatasi masalah ini dan memberikan solusi konkret, agar para peternak tidak terus-menerus dirugikan. Kami ingin agar susu yang diproduksi oleh peternak dalam negeri bisa lebih dihargai dan digunakan oleh industri susu dalam negeri," harap Bayu.(red.A)

0 komentar:
Posting Komentar